Rabu, 16 April 2008

Berjumpa Banyak TKW

Aku dan Allan ikut serta, saat komandan kapal dan Komandan Latihan (Danlat) beserta 1 orang kadet melakukan pertemuan di KJRI. Itulah pertama kalinya aku memasuki jalanan kota Hogkong. Aku, Allan dan Pak pur (dari Dispenal) menuju KJRI dengan taxi, karena mobil nggak cukup. Pak Nugraha adalah pejabat KJRI yang kelihatannya ramah dan ia lah yang setia bersama kami.

Jalanan kota Hongkong itu ternyata memang tidak selebar dan sepadat Jakarta. Di Jakarta, jalanan bisa dijadikan lapangan bola, kalo sedang kosong. Tapi disini, jalan-jalan utama hanya terdiri untuk 3 jalur kendaraan. Tapi ditengahnya ada jalur khusus buat trem, mirip kereta api. Meski begitu, jalanan terlihat lancar, teratur dan bersih. Jarang sekali ada kemacetan. Di kiri kanan jalan, gedung-gedung pencakar langit seolah tak menyisakan ruang kosong. Kami melewati victoria park, sebuah taman di tengah kota yang biasanya dimanfaatkan orang-orang Indonesia yang kerja di situ (TKW) untuk berkumpul pada hari Minggu.

Hanya butuh waktu 15 menit menuju KJRI. Kami tiba di gedung berlantai 12 yang ternyata adalah milik pemerintah Indonesia, bukan sewaan. Pak Nugraha lah yang banyak menjelaskan dan tetap setia mendampingi kami. Ia memang terbiasa melayani wartawan, karena seniorku di trans yang pernah ke hongkong juga menyarankan supaya minta bantuan dia.

Pak Nugraha menyuruh stafnya untuk membawa kami jalan-jalan sebentar di sekitar kantor KJRI. Pak adek, dialah yang membawa kami jalan keluar. Baru aku sadar, di sekitar kantor ternyata banyak komunitas orang Indonesia. Ini terlihat dari adanya supermarket yang menyediakan barang-barang dr Indonesia, money changer yang khusus menyediakan uang rupiah dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Semuanya dengan nama-nama Indonesia.

Di sekitar itu pula, kami selalu berpapasan dengan orang-orang Indonesia. Mereka adalah TKW. Di hongkong, jumlah TKW mencapai 100 ribu lebih. Selama berjalan, kami selalu mendengar para TKW itu ngobrol dalam bahasa Jawa. 80 persen TKW memang berasal dari Jawa, khususnya jawa timur. Aku jadi merasa berada di negeri sendiri.

Di salah satu ruas jalan, berjejer money changer dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Kami lihat, para TKW antri di loket2 yang disediakan. Maklum, menjelang lebaran, biasanya akan banyak TKW yang mengirim uang ke kampungnya di Indonesia. Fakta menarik untuk diberitakan. Aku dan Allan menyempatkan untuk membuat satu paket liputan, dengan pengambilan gambar yang terburu-buru, karena waktu mepet. Jam 3, kami harus kembali ke KJRI. Katanya komandan ada kegiatan. Tapi sampai di KJRI, ternyata mobil juga tidak cukup. Dan kami pun tak jadi ikut. Kesempatan lagi untuk melengkapi paket liputan yang tadi terburu-buru.

Sampai sore, kami bisa membuat 2 pket liputan. 1 liputan lainnya tentang olimpic bridge, yakni jembatan warna-warni untuk menyambut pelaksanaan olimpiade RRC 2008. Tiap anak tangga jembatan penyeberangan itu, di beri warna-warni dan diberi nama kota2 yang pernah menyelenggarakan olimpiade.

Sore hari, kami kembali ke KJRI. Agenda sore itu adalah buka puasa bersama. Rombongan dari kapal datang dengan 2 bus. Acara berlangsung di lantai 2. Selama 12 hari, baru hari itu aku bisa merasakan menu makanan yang beragam. Dari mulai sayur-sayuran, ikan, daging, udang, buah2an dan sambal. Sayang, perut tak kuasa menahan nafsu makan yang menggelegak.

Buka puasa di akhiri dengan acara hiburan musik. Malam itu, rencananya aku dan allan ingin mengambil liputan sholat tarawih berjamaah yang berlangsung di mesjid KJRI. Jamaahnya adalah para TKW. Tapi sayang, waktu tak memungkinkan. Jam 8, kami sudah harus kembali ke kapal.

Tidak ada komentar: