Rabu, 16 April 2008

Hongkong sang Metropolis

Hongkong, kota paling metropolis yang pernah ku lihat dalam hidupku. Sebelumnya, aku hanya melihat kota Jakarta, kota paling besar di Indonesia yang sempat membuatku kagum. Tapi setelah melihat Hongkong, Jakarta seperti tidak ada apa-apanya. Paling tidak bila dilihat dari suasana dan fasilitas kotanya.

Di hongkong, kita hampir tidak bisa melihat celah kosong, selain susunan rapi gedung-gedung pencakar langit. Sepanjang jalan raya, gedung-gedung tersebut tersusun rapi. Dari mulai arsitektur lama hingga yang paling modern. Meski dipenuhi belantara beton, tapi kota ini tidak sumpek dan kumuh seperti Jakarta. Ibarat anak kecil bermain ruah-rumahan yang terbuat dari kotak-kotak kecil, kemudian di susun rapi. Begitulah hongkong. Jarang sekali ada kemacetan. Padahal dengan wilayah yang tak begitu luas, sulit menemui adanya kemacetan di inti kota.

Sarana transportasi, mungkin disini yang paling modern. Ini ku ketahui saat kami dapat waktu untuk pelesir, waktu jalan-jalan bagi kru kapal. Aku, Allan dan dokter kapal di temani oleh salah satu keluarga yang kerja di KJRI. Kami sengaja bertandang ke rumah keluarga itu di salah satu apartemen, di pinggiran Hongkong. Untuk masuk ke apartemen itu, kami harus dijeput sang pemilik rumah. Kalo tidak, kami harus berhadapan dengan security. Apalagi orang asing seperti kami. Demi keamanan, tak gampang orang asing masuk ke kawasan apartemen itu.

Keluarga itu menyewa apartemen di lantai 52. Mereka menyewa tempat yang sederhana, tapi bagiku sudah mewah. Ada ruang keluarga, ruang makan, dapur dan 3 kamar tidur. Dari ruang tamu, bisa melihat pemandangan laut Hongkong yang penuh kapal-kapal fery dan peti kemas. Apartemen itu, ternyata berada di tepi laut. Sungguh indah, bisa melihat pemandangan laut hanya dari rumah.

Keluarga yang baik hati itu bersedia menemani kami jalan-jalan ke pasar tradisional mongkok, pasar tempat penjualan souvenir dengan harga murah. Keluarga yang ikut serta kami itu terdiri dari Ibu, kami memanggilnya ibu westy, suaminya yang kerja di KJRI dan anak gadisnya, mahasiswi Kedokteran UI yang sedang liburan ke Hongkong. Dari apartemennya menuju mongkok, kami menggunakan bus tingkat. Di kota itu biasa di sebut City Bus.

Di hongkong, meski taraf ekonomi penduduknya mapan, tapi jarang memiliki mobil pribadi. Maklum, di sana, pemilik mobil akan dikenakan pajak yang sangat tinggi. Belum lagi biaya parker yang juga sangat mahal. Ini sengaja dilakukan pemerintah untuk mengurangi kepadatan mobil di jalan yang bisa mengakibatkan kemacetan. Tapi sebagai kompensasinya, pemerintah menyediakan fasilitas transportasi massal yang nyaman dan aman. Salah satunya adalah bus yang kami naiki ini. Tak heran, para penggunanya banyak dari kalangan berdasi, orang –orang yang bekerja di kantoran. Selain bus, tersedia sarana lainnya, yaitu trem dan yang paling menjadi pilihan adalah kereta bawah tanah alias sub way.

Pengguna city bus, seperti kami, tak perlu repot mengeluarkan uang, karena hanya tinggal membeli kartu yang berisi nominal uang untuk naik bus. Kartu cukup di temple ke tempat pemeriksaan saat naik bus. Kalo belum punya kartu langganan itu, barulah menggunakan uang yang dimasukkan ke tabung transparan di dekat supir.

Suasana nyaman terasa di dalam bus. Penumpang tidak ada yang berdiri, seperti halnya bus way di Jakarta. Ada TV, di larang merokok karena berAC. Aspek keamanan memang di nomor satukan. Ini didukung oleh orang-orang hongkong yang dikenal jujur. JIka ada barang tertinggal di bus, tidak perlu khawatir akan hilang. Orang hongkong tidak mau mengambil barng yang bukan miliknya. Barang-barang yang tertinggal biasanya akan diselamatkan oleh petugas bus, kemudian ia akan menyimpannya sampai sang pemilik mengambilnya di station bus. Hal ini pernah dialami oleh saudaara bu westy yang berlibur ke hongkong. Saat itu, tas saudaranya tertinggal. Di dalam tas ada dompet dan dokumen2 penting, seperti passport. Tas itu akhirnya bisa kembali setelah ia melapor ke petugas bus, dan barang itu ternyata memang sengaja di simpan oleh petugas bus

Disiplin penduduk hongkong juga luar biasa. Mereka antri di halte-halte bus, tidak saling berebutan. Semuanya seolah berjalan lumrah, tanpa ada petugas yang harus mengaturnya. Bus juga berhenti di halte2 yang telah di tentukan. Benar-benar pemandangan yang bertolak belakang dengan bangsa kita.

Di pasar mongkok, kami membeli souvenir. Di sini tersedia beragam barang, dari mulai elektrnonik, pakaian, cenderamata dll. Di tempat penjualan elektronik, katanya harganya jauh lebih murah dari di Indonesia. Tapi setelah aku hitung2, ternyata bedanya nggak terlalu jauh kok. Kamera digital misalnya, harganya hanya selisih 100 sampai 200 ribu rupiah dari di Indonesia. Untuk membeli cinderamata, tempatnya berupa kaki lima dan disebut dengan ladies market. Di beri nama itu karena penjualnya mayoritas adalah perempuan.

Di ladies market, aq membeli 12 bh baju kaos, gantungan kunci, hiasan piring bertuliskan hongkong dan cenderamata lainnya. Sebelumnya aku menukar 100 dollar dengan suami bu westy untuk belanja oleh-oleh. Di sini, memang harganya bisa murah. Tapi untuk mendapatkan hal itu harus dengan cara menawar harga semurah mungkin, mirip seperti pasar di negeri ini. Bu westy memang ahlinya menawar. Sebagian besar barang yang kami beli adalah hasil jerih payah dirinya menawar. Saat sang pedagang menyebutkan harga, kita bisa menawar sampai separuh harga. Kadang-kadang malah lebih. Tentang bahasa tak perlu khawatir, karena semua pedagang di sana mampu berbahasa Inggris. Pasar ini memang sudah sangat dikenal, dan pembelinya tidak hanya penduduk hongkong, tapi dari warga Negara mana aja yang mengunjungi Hongkong. Kalopun mendapat kesulitan dalam tawar menawar dengan bahasa inggris, solusinya bisa dilakukan dengan kalkulator. Kita tinggal menulis harga yang kita inginka. Mudah..

Mengenang tawar menawar itu, aku suka tertawa sendiri. Kadang-kadang kami sampe berantem dengan pedagang. Itu terjadi kalo kami menawarnya terlalu rendah. Karena saling ngotot. Ada juga pedagang yang sampe mengusir kami, karena tawaran kami dinilainya nggak masuk akal, terlalu rendah. Untuk belanja kali itu, 80 dollar amerika aku habiskan. Kalo dialihkan ke dollar hongkong, sekitar 90 ribu dollar hongkong.

Waktu yang tersedia untuk pelesir sangat sempit. Kami hanya diberi waktu sampai jam 2 siang. Sorenya kami harus bertolak menuju zhangjiang, China. Jadi, belanjanya pun serba buru-buru. Dari mongkok, kami ke dermaga dengan menggunakan sub way atau kereta bawah tanah. Inilah alat transportasi massal yang paling banyak digunakan di hongkong. Untuk naik sub way, kami harus ke stasiun. Namanya juga kereta bawah tanah. Stasiunnya juga berada di bawah tanah. Kami menuruni tangga dan tiba di stasiun kereta yang luas. Meski berada di bawah tanah, namuan suasananya tak jauh berbeda dengan stasiun biasa yang di aatas tanah.

Fasilitasnya cukup banyak. Ada supermarket dan jejeran toko2. Kamipun mengirim kaset liputan ke Indonesia dengan menggunakan DHL yang berada di dekat stasiun itu. Suasana di stasiun bawah tanah itu malah terkesan lebih ramai. Sama seperti di bus, menggunakan sub way juga dengan menggunakan tiket yang dibisa digunakan beberapa kali, sesuai dengan nominal yang ada di tiket. Membelinya gampang, yakni di sebuah mesin otomatis, mirip ATM. Kita tinggal memencet harga tiket yang kita inginkan dan tiket akan keluar dengan sendirinya. Benar-benar simpel.

Kereta datang setiap beberapa menit sekali. Penggunapun langsung masuk ke dalam, dengan pintu kereta yang otomatis. Jadi, tetap saja kita tidak akan menemukan petugas atau juga kondektur yang harus mengatur penumpang. Semuanya sudah teratur. Saat kami masuk, ternyata sudah penuh. Maka, kamipun berdiri. Meski begitu, tetap nyaman karena berAC dan kereta tidak bergoyang terlalu keras. Sub way yang kami menaiki menyusuri stasiun2 hongkong. Aku membayangkan bagaimana mereka bisa membangun terowongan-terowongan untuk sub way, sementra di atasnya gedung-gedung pencakar langit menjulang. Benar-benar kerja yang luar biasa. Sama denga bus, sub way juga melewati jalur bawah laut.

Kami tiba di stasiun tujuan, Wanchai. Bagai semut, penumpang bergerombol keluar dari sub way dan bergegas menuju ke tempat mashing-masing. Setiap stasiun sudah terhubung dengan jembatan yang menghubungkan antara satu gedung ke gedung lain, menghubungkan ke jembatan penyeberangan jalan. Semuanya sudah dirancang untuk memberi kemudahan, terutama bagi kaum berdasi yang bekerja di kantornya. Sekali keluar dari stasiun, mereka tinggal masuk ke kantornya, karena memang stasiun itu berada tepat di bawah gedung-gedung. Saat ratusan penumpang muncul dari tangga bawah tanah, maka terlihat seperti semut, beriringan menuju ke tujuan masing-masing.

Aku hanya bisa membayangkan bagaimana mungkin alat transportasi seperti ini di bangun di Jakarta. Bagaimana kehidupan di hongkong yang serba teratur, berdisiplin tinggi, aman dan nyaman itu bisa terjadi di Jakarta?

Untuk membangun sub way saja misalnya, mungkin penduduk di Jakarta harus direlokasi lebih dulu, kemudian gedung-gedung di ratakan seluruhnya, barulah bisa membangun fasilitas transportasi itu dengan baik dan penduduk di beri penempatan dengan baik, di atur penempatan taman kota, penempatan kawasan bisnis, kawasan perkantoran dan pemukiman. Wah, rumit pasti..

Sedangkan untuk membangun kultur masyarakatnya yang berdisiplin, patuh pada hokum, jujur, bertanggung jawab, mungkin harus di hadirkan orang-orang baru dari generasi yang baru pula. Kalo generasi yang sekarang, wah ibarat pungguk merindukan bulan. Padahal, kalo di piker-pikir, penduduk hongkong itu mayoritas adalah penganut ateis alias tidak beragama. Nah kita???

Tidak ada komentar: