Rabu, 16 April 2008

Obat Bosan

7 Okt, habis Maghrib

Berhari-hari di kapal, tentu saja membosankan. Tapi untungnya di kapal, selalu saja ada kegiatan yang bisa melepaskan diri dari kebosanan. Berbagai macam hiburan bisa dilakukan oleh para kru kapal, biasanya malam hari. Salah satunya adalah dangdutan. Di kapal tersedia organ tunggal, gendang, seruling jawa. Mereka memang jagonya bermusik. Tp alat musik itu khusus untuk dangdut. 3 buah buku berisi lagu-lagu, semuanya lagu dangdut. Kadang-kadang lagu campur sari. Maklum, mayoritas kru kapal adalah orang jawa, terutama jawa timur. Hanya sebagian yang berasal dari luar pulau jawa, khususnya sumatera, seperti diriku.

Dangdutan berlangsung di bangku sisi kiri kapal/ tak jauh dari kamarku. Aku paling suka kalo sudah mendengar lagu campur sari. Suara mereka tak jauh beda dengan didi kempot. Alunan organ, di tambah gendang dan seruling jawa menambah indah lagu yang dibawakan. Suasana kebersamaan benar-benar terlihat dan terasa.

Di kapal juga tersedia Play station (PS). Tapi aku tak pernah main. Aku memang tak bisa main PS. Dan memang nggak hobby. Hiburan lain adalah dengerin musik atau nonton film DVD yang ada di lounge room, ruang makan. Lagu-lagu grup band yang lagi ngetop saat ini tersedia lengkap.



Hiburan lain yang bisa menghilangkan rasa bosan tentu adalah makan dan tidur. Itu rutinitas harian, tapi bisa menjadi obat mujarab di kapal. Tidur, udah pasti akan nikmat, meski untuk itu badan terasa capek, karena badan akan bergeser ke kiri ke kanan, karena ombak laut. Kalo makan, ini agak susah juga. 5 hari di kapal, aku belum bisa merasakan nikmatnya makan di kapal.

Sebelumnya, aku hanya bisa menghabiskan 2 centong nasi. Itupun kadang-kadang tidak habis. Makan bukanlah sesuatu yang nikmat, tapi justru menjadi beban. Makan hanya karena takut masuk angina dan tak bertenaga. Kondisi yang sama juga dialami temanku allan. Menu di kapal, kadang-kadang memang bervariasi. Ada daging ayam, telur, ikan, sayur mayur juga beragam dari mulai sawi, wortel, kentang, kol dll. Tapi mengenai rasa, ini masalahnya. Para kru kapal bilang, apapun makanannya, rasanya Cuma satu, rasa kapal. Mau di buat sop, atau di gulai atau mau di apakan saja, ya rasanya sama saja, rasa kapal. He he..

Tapi aku salut sama mereka. Para ABK-ABK berbadan kekar itu, kalo makan kalapnya minta ampun. Melihat mereka makan saja, aku sudah kenyang. Kadang-kadang kalo makan, ku lihat, bisa dalam mangkok besar, nasi dan lauk pauk di jadikan satu. Lalu kuahnya di seruput. LUar biasa. Andai aku bisa begitu. Bisa gemuk aku. Tapi yang kualami justru sebaliknya. 6 hari dikapal, berat badanku turun 2 kilo. Aku baru tau dari timbangan yang ada di kamar dokter kapal. Udahlah kurus, turun berat badan, mau bagaimana lagi bentuknya…

Tidak ada komentar: