Rabu, 16 April 2008

Ombak Besar

7 Okt, habis maghrib.

Perjalanan hari ke empat menuju hongkong adalah yg terberat. Kapal, saat itu baru lepas dari pulau Basilan dan mulai memasuki Laut Sulu, Filipina. Menjelang buka puasa, kapal mulai berguncang tak biasa. Ombak di luar sangat besar. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri.Ini namanya ombak haluan. Kapal seperti mau terbalik saja.

Kondisi ini terus berlangsung sampe besoknya. Selama ombak besar itu, kapal terasa sepi. Tiada terdengar obrolan kru kapal. Tiada terdengar dangdutan, yg biasanya berlangsung saat malam. Tiada juga suara tawa, saat bermain remi. Semua seolah membisu. Semua berada di kamar. Sebagian besar tidur. Sebagian lagi, aku tak tau, karena pintu kamar tertutup rapat.

Yg terdengar hanya suara perabotan kapal yang bergeser kesana kamari akibat hempasan ombak. Saat aku tidur di ruang Saloon, suara hentakan pigura2 yg tergantung seolah menjadi teman setia. Di atas kepalaku, pigura bergambar SBY – JK. Suara hentakannya selalu menjadi pusat perhatianku. Pintu saloon terkadang malah terbuka sendiri. Lalu tertutup dengan suara yg keras. Seperti orang maarah, membanting pintu.

Saat paginya, aku tidur ke kamar. Di sini, suara benda-benda yg bergeser malah tambah parah. Dari mulai suara drum-drum yg terbanting, suara kaleng yg jatuh di dapur, dan kadang-kadang, piring dan sendok yg jatuh.

Kondisi begini, tentu saja menyiksaku dan allan. Apalagi dengan badan bergoyang kekanan dan ke kiri, tubuh jadi tidak nyaman. Pusing datang tak diundang. Serba salah. Mau bergerak nggak bisa. Mau tidur juga susah. Kondisi ombak seperti ini, seperti kata kru kebanyakan, membuat kita jadi malas. Akhirnya hanya bisa bertahan , berdiam diri, berusaha menikmati perjalanan, meski sebenarnya ini jadi sebuah siksaan.

Aktivitas kapal, hari itu, nyaris semuanya di tiadakan. Kadet2 yg biasanya mendapat materi pelayaran di geladak kapal, hari itu hanya berada di magic box. Sebutan mereka karena ruangan yg sempit itu mampu menampung 65 kadet. Padat, sumpek. Benar2 kumuh.

Menjelang siang, kami sudah bisa adaptasi. Aku dan allan di ajak dokter kapal ke anjungan kapal utk mengambil gambar. Katanya ombak besar bagus kalo diambil gambarnya dari anjungan. Anjungan adalah tempat tertinggi di kapal, berada di atas ruang navigasi.

Dengan jalan sempoyongan, seperti orang mabuk, kami tiba di anjungan. Aku mengabadikan ombak besar yg menghempas kapal kami. Terlihat ngeri memang. Kapal segini kecil berada di tengah ombak yg besar. Kapal miring ke kiri dan ke kanan. Ombak lambung emang membuat kapal tak berdaya. Ombak lambung, maksudnya ombak yang datang dari sisi kapal.

Saat-saat tertentu, kemiringan kapal mencpai 30 sampai 35 derajat. Bisa dibayangkan. Aku sendiri takut. Kadang-kadang, malah membayangkan yg bukan-bukan. Menjelang malam, barulah suasana sudah sedikit membaik. Ombak tidak sehebat sebelumnya. Biasanya kondisi laut mulai tenang bila mendekati/ menyisir pulau. Kalo udah begitu, barulah hari sedikit lega.

Tidak ada komentar: