Negeri tirai bambu. Emhh.. Aku udah pernah mencecahnya. Dengan kapal KRI Dewa Ruci. Negeri komunis, tapi kehidupan masyarakatnya justru tak beda dengan kondisi bangsa kita. Tak ada yang menandakan negeri komunis, seperti yg di cap selama ini, sebagai Negara miskin, penuh ketegangan dan tanpa kebebasan.
Memasuki kota Zhangjiang, aku seolah tersadar bahwa kota ini nun jauh dari negeriku. Tapi anehnya, suasananya tak jauh beda dengan Indonesia. Bukankah banyak kota di Negara ini yang di huni mayoritas cina, sehingga di sebut dengan kawasan pecinan. Bedanya, bangunan di kota yang menjadi markas angkatan laut di bagian Selatan RRC itu di dominasi oleh bangunan tinggi. Meski tak setinggi seperti di Jakarta, umumnya gedung-gedung di dominasi oleh pertokoan dan pusat perbelanjaan.
Aku masuk ke Bank of China untuk menukar uang dollar ke Yuan. Pelayanan bank terkesan kurang memadai. Uang yuan yang kami terima, sebagian besar sudah dalam kondisi lusuh. Prosesnya agak berbelit dan lama. Mungkinkah ini yang menjadi cirri khas birokrasi di negri sosialis? Dari Bank, aku dan letnan Lukas, salah satu perwira Dewa Ruci, berjalan-jalan ke kawasan pertokoan, mencari souvenir. Di tengah kota, pemandangan yang tidak biasa ku temui di Indonesia adalah kehadiran sepeda. Ya, mayoritas warga di sini tampaknya menjadikan sepeda sebagai sarana transportasi utama.
Tak heran, selain mobil dan sepeda motor, iring-iringan sepeda senantiasa berseliweran di pinggir jalan. Di depan pertokoan, tempat parkir sepeda telah disediakan. Biasanya di bawah pohon-pohon rindang, puluhan bahkan ratusan sepeda berjejer teratur. Mungkin pemilik sepeda sedang bekerja di took-toko atau dimana saja di kota itu. Sebagian besar sepeda adalah sepeda tua. Ini bisa dilihat dari bentuknya, cat yang sudah kabur dan karatan yang terlihat di banyak bagian sepeda. Unik rasanya, di tengah kota, orang beriring-iringan naik sepeda.
Jalanan di tengah kota, sangat lebar. Mobil-mobil bisa dipastikan semuanya made ini china. Jangan berharap kita akan melihat mobil buatan eropa atau Amerika. China, memang terkenal sangat protektif dari produk luar. Tidak hanya mobil, sebagian besar produk yang digunakan masyarakatnya adalah buatan negaranya sendiri. Hebat juga. Kota Zhangjiang, yang lumayan modern, namun tampaknya semua itu adalah hasil karya mereka sendiri. Bandingkan dengan bangsa kita, modern tapi semuanya masih bergantung pada produk luar.
Memasuki mall di Zhangjiang, tak ubahnya memasuki mall di Indonesia. Yang membedakan hanyalah bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa China. Kehadiran aku dan Letnan Lukas, sesekali menjadi perhatian orang-orang di situ. Tampaknya, kota itu memang jarang di hadiri oleh orang asing, seperti kami. Tapi sebagian besar tetap ramah. Saat kami masuk ke salah satu took souvenir, pelayan-pelayan yang umumnya adalah remaja, menyambut kami dengan hangat dan tak keberatan saat kami ajak foto bersama.
Kendala utama adalah dalam berkomunikasi. Berbeda dengan Hongkong, di kota ini hanya sedikit yang faham bahasa Inggris. Hanya ada beberapa orang yang bisa, itupun dengan kemampuan yang terbatas. Tampaknya, mereka memang tidak biaasa menggunakan bahasa lain selain bahasa China. Dari sini, aku mulai bisa mencium aroma Negara tirai bambu yang memang tertutup dari pengaruh budaya asing, terutama budaya barat. Barangkali, di sekolah mereka tidak pernah di ajarkan bahasa Inggris. Di Negara kita, sebodoh-bodohnya orang, pasti masih akan mengerti bila di ajak dengan bahasa Inggris, minimal hanya untuk berkata yes dan no. Tapi, orang-orang di kota ini tampaknya memang sangat asing dengan bahasa Inggris. Termasuk saat aku ceritakan tentang penggunaan produk, yang memang adalah hasil karya mereka sendiri. Inikah pertanda sebagai Negara sosialis?
Rabu, 16 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar