Rabu, 16 April 2008

Puasa di Dewa Ruci

Seorang awak kapal memukul lenganku. “Sahur mas, sahur..” Tersentak dan sadar. Waktu sahur telah tiba. Bersama Alan, aku bergegas ke lounge room, ruang makan yang diperuntukkan bagi perwira, termasuk komandan kapal.

Menu pagi itu, sayur, ikan tongkol ukuran besar, sambel terasi. Semuanya sudah terhidang di meja. Menu yang tak memancing selera bagiku. Tapi mau tak mau, hrs makan. Paling nggak, untuk menghindari masuk angin, mabuk laut. Sepiring bisa ku habiskan. Tapi allan, baru beberapa suap, udah gak sanggup. Saat bangun tidur, ia memang sudah terlihat kurang sehat. Pusing katanya. Tak lama kemudian, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tanda mau muntah. Langsung ku arahkan agar muntahannya tertuju ke ember tempat penampungan air AC yg menetes. Ia tampak lemas, tak bertenaga.

Hari pertama, allan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Ia hanya tergolek lemas, nggak puasa. Syukurnya, aku tak merasakan pusing dan mabuk laut. Bahkan hari itu, aku bisa mengambil gambar hampir seharian di kapal. Termasuk pengambilan gambar saat layar di buka dan di tutup.

Hari itu, angin cukup bersahabat. Maka, layar kapal langsung di kembangkan. Prosesi pengembangan layar, cukup menarik untuk diambil gambar. Saat layaar terkembang, kecepatan bisa mencapai 15 knot. Tanpa layar, kekuatan mesin hanya bisa memacu kecepatan kapal maksimal 10 knot. Kalo di darat, 10 knot sama dengan 30 km perjam.

Air adalah masalah utama di kapal ini. Perjalanan panjang selama 12 hari, sementara persediaan air terbatas. Maka, tak ada cara lain selain berhemat. Keran air dinyalakan saat tertentu saja. Tak heran, kami sering kehabisan air. Air di nyalain pagi hari, siang dan sore hari. Aku tak mandi pagi karena telat, keburu habis. Tapi sore, air lumayan banyak. Jadi aku bisa mandi.

Hari pertama, akhirnya puasaku tuntas. Walaupun dengan makan seadanya. Untungnya, aku dan allan udah bawa stok makanan banyak. Obat-obatan dan vitamin juga tersedia banyak.


Hari kedua, 2 Okt

Hari kedua, berbeda dengan hari pertama. Bila hari pertama aku masih bisa tertawa, tersenyum dan ramah pd semua kru kapal. Hari kedua badanku drop. Saat siang, tak tertahankan lagi, aku langsung ke buritan kapal, memuntahkan isi perut. Emang menyiksa kalo mabuk laut. Itulah yg kurasakan pada hari kedua. Apa yg udah kumakan, keluar semua.

Setelah muntah, aku langsung buka puasa. Emang udah batal. Makan roti, obat anti mual yg diberi dokter kapal. Setelah itu makan nasi. Dan tak lama, kuhabiskan waktu dengan tidur, sampe sore. Kondisi berbeda justru dialami temanku allan. Ia malah tampak lebih segar dan bisa menuntaskan puasanya hingga waktu berbuka. Tp untungnya kondisiku mulai pulih dan stabil hingga hari ketiga. Hari ketiga, hujan menyelimuti perjalanan kami. Hai ketiga, kami melintasi wilayah Filipina. Siang hari, kami melewati kawasan yg rawan perompakan. Perompak biasanya adalah para tentara pemberontak Moro, pimpinan abu sayaf yg terkenal di Filipina itu.

Tidak ada komentar: