Warna-Warni Zhang Jiang
Di lain kesempatan, aku bersama kru dewa ruci berjalan-jalan ke city walk, salah satu tempat belanja di Jhangziang. Di sini, pusat perbelanjaan yang khusus hanya bisa di kunjungi dengan cara berjalan. Tempatnya sangat teduh. Di kiri kanan jalan yang cukup luas itu, ruko-ruko berjajar. Menjual banyak produk khas china, dari mulai pakaian, souvenir, hiasan dan banyak lagi. Produk-produk di sini memang terbilang murah. Tak heran, aku bisa banyak belanja di sini, Padahal, di kota ini, aku hanya menukar uang 80 $. Tapi aku bisa memborong berbagai macam produk. Meski demikian, jangan Tanya kualitas? Aku baru tahu, di balik harga murah itu, ternyata kualitasnya memang tak terlalu baik. Selain itu, hati-hati, karena produk elektronik di sini ternyata banyak yang aspal, asli tapi palsu.
Aku mengalaminya dan kapok. Aku membeli flash disk merk Sony satu giga di satu mall. Saat di coba dengan computer di toko itu, semuanya baik. Tapi saat aku gunakan, ternyata itu flashdisk tak bisa digunakan. Merk boleh sony, tapi itu ternyata bajakan. Flasdisk ternyata tak bisa dibuka apalagi di isi. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati saat mengetahuinya di Indonesia. Tentang harga yang murah, memang menjadi khas produk cina. Gak usah jauh-jauh. Produk mereka di Negara kita aja memang dikenal sangat murah disbanding buatan barat, seperti motor, mobil dan produk elektronik. Tapi kalo bicara kwalitas, tentu saja kalah. Tapi dengan strategi harga murah itulah, tampaknya mereka bisa berkembang.
Kota Zhangjiang, yang kulihat tidaklah mencerminkan sebagai kota yang kumuh dan penuh dengan kemiskinan. Yang kulihat, justru kota yang relative modern. Padahal, Jhangjiang hanyalah kota kecil, ibukota propinsi yang masih kalah jauh dengan kota lain di RRC, seperti Shanghai atau juga Guangjhou. Tapi bagiku, di bandingkan dengan kota propinsi di negera kita, kota ini tak kalah jauh kemajuannya. Dari sisi gedung di tengah kota saja sudah memperlihatkan hal itu. Untuk ukuran kota medan misalnya, pasti sudah kalah. So bayangan sebagai negeri sosialis yang tertinggal, kini sudah runtuh. Kesanku, mereka malah menjadi negeri yang mandiri, dengan produk hasil sendiri dan maju atas dasar kerja sendiri.
Tapi dari sisi penguasaan informasi, tentu mereka tertinggal jauh. Bahasa Inggris, hanya satu dua yang tahu. Saat aku mencoba memperkenalkan nama Indonesia pada salah satu penduduk, mereka tak tahu Negara itu di mana. Mereka lebih mengenal Singapura. Apakah ini bisa menjadi indikator, bahwa pendidikan mereka masih kalah jauh dengan negera kita?
Di kota ini pula, jangan harap mereka bisa melihat siaran TV asing, seperti HBO, ESPN, CNN dan lain-lain. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan pemilik kantin di dekat pelabuhan, siaran TV mereka hanya didominasi siaran local, dan umumnya lebih berisi berita-berita ceremonial dari pemerintah. Masih ada sih siaran hiburan. Aku sempat nonton acara musik dan film-film romantis China. Film barat, aku tak menyaksikannya saat menyetel tv lebih dari 1 jam Ada beberapa stasiun TV. Tapi programnya, kelihatannya hampir seragam. Kondisi ini, pastinya jauh berbeda dengan kota di Negara mereka sendiri, seperti hongkong yang pasti sudah tanpa batas dengan budaya barat. Tapi hongkong kan berbeda, karena kota itu adalah kawasan otonomi yang terpisah dari pemerintah china, kecuali untuk urusan pertahanan keamanan dan luar negeri.
Jangan bicara tentang demokrasi di negeri ini. Rakyat memang tak bisa pilihan lain selain harus patuh dan tunduk pada pemerintah. Presiden China adalah ketua partai tunggal di China yang berideologi sosialis. Sebagai Negara sosialis, warga Negara hanya boleh berkreasi sebatas yang diperbolehkan oleh Negara. Pemerintah berprinsip sama rata sama rasa. Mungkin, inipula yang yang menyebabkan akan sangat jarang ada orang yang sangat kaya bisa hidup. Ironisnya, masyarakat terkesan tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Mereka bahkan tidak ada merasa untuk melawan dan memprotes kebijakan yang demikian. Mereka percaya bahwa pemerintah berjalan di rel yang benar dan selalu memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Karena itu, mereka percaya sepenuhnya. Karena itu, stabilitas politik dan pemerintahan berjalan dengan stabil.
Militer pun harus tunduk pada ketentuan yang sudah digariskan presiden yang juga sebagai pemimpin tertinggi militer. Gaji para militer termasuk sangat rendah. Tapi mereka bisa menerima tanpa harus mengeluh. Mereka hanya sempat iri pada TNI AL Indonesia yang bisa bebas jalan-jalan keluar negeri. Hal itu, rasanya sangat mustahil bisa mereka rasakan.
Zhang jiang, salah satu kota yang sudah aku kunjungi di negera tirai bambu. Sayang, disitu hanya dua hari dan tak sempat berkunjung dan berjalan terlalu banyak. Tapi paling tidak, kota itu sudah bisa menjadi sedikit gambaran dari kondisi Negara RRC.
Rabu, 16 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar