Rabu, 16 April 2008

Tekhnologi Manual Dewa Ruci

Senin, 9 Nov
10.35 Waktu setempat

Separuh laut Cina selatan sudah kami lalui. Laut tenang. Ombak hanya sesekali mengolengkan kapal. Ini hari ke tiga kami berada di laut cina selatan. 3 hari lalu, Jumat jam 5 sore, kapal mulai berbelok memasuki laut cina selatan. Sebelumnya kapal mengarah ke timur, menyusuri pulau Luzon Filipina.

Saat memasuki laut cina selatan pertama kali, ombak lumayan besar. Tapi tidak sebesar seperti di laut sulu. Laut cina selatan, dari yang aku dengar selama ini, merupakan salah satu laut terganas. Tp Alhamdulillah, hingga saat ini, cuaca cukup bersahabat. Padahal sebelumnya, kami sempat was-was. Berdasarkan informasi dari pusat ramalan cuaca, badai typhoon baru saja melanda kawasan yang akan kami lewati, tepatnya 30 sept dan 1 okt yang lalu. Ada 3 titik di laut cina selatan yang terkena badai. Badai typhoon tersebut memanjang dari arah tenggara hingga barat laut.

Tp untungnya badai tersebut sudah menghilang. Saat kami melintasi laut cina selatan. Tapi pada hari minggu, dari informasi salah seorang kru kapal, badai justru terlihat di utara Tokyo, Jepang. Jaraknya beratus-ratus mil laut dari tempat kami berada. Meski jauh dari pusat badai, tapi efeknya terasa hingga ke tempat kami. Ini terlihat dari ombak yang membesar dan meninggi. Efek typhoon biasanya mampu mencapai 300 mil laut. Seorang perwira kapal itu mengatakan, ia pernah melintasi kawasan ini, tapi ombaknya tidak sebesar seperti yang kami alami saat ini. Ia memastikan bahwa ombak yang kami rasakan ini merupakan efek dari typhoon di jepang itu.

Dari pos komando utama yang berada di anjungan, akan terlihat laut cina selatan merupakan laut terdalam yang kami lalui. Dalamnya sekitar 4500 meter. Di Pos komando utama tersedia banyak informasi tentang navigasi. Di situ terdapat kemudi, radar, ruang komunikasi dan banyak lagi. Dari peta, di ketahui kapal sedang berada di mana. Di Bantu radar dan GPS. Dapat pula di tentukan jarak tempuh, kecepatan kapal, pulau-pulau yang akan terlewati dan yang terpenting jalur yang akan kami lalui. Waktu sholat, berbuka puasa, Imsak dan sebagainya juga bs di ketahui.

Di situ pulalah, para kadet belajar tentang pelayaran. Mereka sibuk mengukur derajat posisi kapal, mengatur posisi kapal dari kemudi yang diameternya lebih dari 2 meter. Bagiku, itu cukup modern. Tp ternyata tidak. Menurut salah seorang perwira yg bertugas, peralatan navigasi di KRI Dewa Ruci justru masih sangat tradisional. Malah, kapal nelayan Thailand, hanya butuh satu layar seperti computer dan semuanya sudah diatur di situ. Seorang kapten kapal hanya tinggal melihat layar dan memencet beberapa tombol untuk menjalankan kapal dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Tapi di dewa ruci, memang masih ada yang manual. Tapi ini memang di bentuk sebagai bahan pelajaran bagi para kadet. Mengenai hasil, dengan cara manual bahkan bisa lebih tepat hasilnya ketimbang tekhnologi digital itu.

Tidak ada komentar: