Sabtu malam, 30 Sept 06
Terbang dengan Sriwijaya Air dari Bandara Sukarno Hatta, transit di Makasar, akhirnya tiba di Gorontalo, sekitar jam 9.30 malam WITA.
Mobil yang kami tumpangi meluncur ke pelabuhan laut Gorontalo. Penasaran, mau tau bagaimana bentuk kapal Dewa Ruci. Selama ini Cuma liat melalui gambar di internet.
Memasuki areal pelabuhan, yang tampak pertama kali adalah tiang layar dewa ruci. Badan kapal tertutupi oleh KRI Teluk Ende. Posisinya bersebelahan.
Pelabuhan Gorontalo yang sempit tdk memungkinkan kapal berada di pinggir laut. Pelabuhan laut Gorontalo memang kecil. Msh dalam tahap pembangunan.
Untuk memasuki Dewa ruci harus melewati Teluk Ende, kapal perang yang cukup besar. Di balik megahnya teluk ende, barulah tampak sesosok Dewa Ruci yang mungil. Aku sampe nggak percaya, kok sekecil ini. Saat di teluk ende, kita serasa berada di darat. Nyaris tanpa ada goyangan. Tapi di dewa ruci malah sebaliknya. Meski hanya bersandar, kapal bergoyang ke sana kemari. Apalagi kalo ada arus sedikit aja.
Aku dan Allan (Teman satu tim) hanya bisa tertawa, tersenyum, saling pandang. Kapal ini yang akan kami naiki selama 2 bulan. Ya.. 2 bulan menuju Hongkong, China, Korea, Jepang n Filipina.
Wahyu n boby memperkenalkan kpd kami beberapa kru kapal. Sebagai tim pertama yang ikut, pastilah mereka sudah mengenal semua kru kapal. Ia melakukan perjalanan gelombang pertama juga hampir 2 bulan, menuju Malaysia, Thailand, Vietnam, kamboja, dan brunai Darussalam.
Rabu, 16 April 2008
Puasa di Dewa Ruci
Seorang awak kapal memukul lenganku. “Sahur mas, sahur..” Tersentak dan sadar. Waktu sahur telah tiba. Bersama Alan, aku bergegas ke lounge room, ruang makan yang diperuntukkan bagi perwira, termasuk komandan kapal.
Menu pagi itu, sayur, ikan tongkol ukuran besar, sambel terasi. Semuanya sudah terhidang di meja. Menu yang tak memancing selera bagiku. Tapi mau tak mau, hrs makan. Paling nggak, untuk menghindari masuk angin, mabuk laut. Sepiring bisa ku habiskan. Tapi allan, baru beberapa suap, udah gak sanggup. Saat bangun tidur, ia memang sudah terlihat kurang sehat. Pusing katanya. Tak lama kemudian, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tanda mau muntah. Langsung ku arahkan agar muntahannya tertuju ke ember tempat penampungan air AC yg menetes. Ia tampak lemas, tak bertenaga.
Hari pertama, allan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Ia hanya tergolek lemas, nggak puasa. Syukurnya, aku tak merasakan pusing dan mabuk laut. Bahkan hari itu, aku bisa mengambil gambar hampir seharian di kapal. Termasuk pengambilan gambar saat layar di buka dan di tutup.
Hari itu, angin cukup bersahabat. Maka, layar kapal langsung di kembangkan. Prosesi pengembangan layar, cukup menarik untuk diambil gambar. Saat layaar terkembang, kecepatan bisa mencapai 15 knot. Tanpa layar, kekuatan mesin hanya bisa memacu kecepatan kapal maksimal 10 knot. Kalo di darat, 10 knot sama dengan 30 km perjam.
Air adalah masalah utama di kapal ini. Perjalanan panjang selama 12 hari, sementara persediaan air terbatas. Maka, tak ada cara lain selain berhemat. Keran air dinyalakan saat tertentu saja. Tak heran, kami sering kehabisan air. Air di nyalain pagi hari, siang dan sore hari. Aku tak mandi pagi karena telat, keburu habis. Tapi sore, air lumayan banyak. Jadi aku bisa mandi.
Hari pertama, akhirnya puasaku tuntas. Walaupun dengan makan seadanya. Untungnya, aku dan allan udah bawa stok makanan banyak. Obat-obatan dan vitamin juga tersedia banyak.
Hari kedua, 2 Okt
Hari kedua, berbeda dengan hari pertama. Bila hari pertama aku masih bisa tertawa, tersenyum dan ramah pd semua kru kapal. Hari kedua badanku drop. Saat siang, tak tertahankan lagi, aku langsung ke buritan kapal, memuntahkan isi perut. Emang menyiksa kalo mabuk laut. Itulah yg kurasakan pada hari kedua. Apa yg udah kumakan, keluar semua.
Setelah muntah, aku langsung buka puasa. Emang udah batal. Makan roti, obat anti mual yg diberi dokter kapal. Setelah itu makan nasi. Dan tak lama, kuhabiskan waktu dengan tidur, sampe sore. Kondisi berbeda justru dialami temanku allan. Ia malah tampak lebih segar dan bisa menuntaskan puasanya hingga waktu berbuka. Tp untungnya kondisiku mulai pulih dan stabil hingga hari ketiga. Hari ketiga, hujan menyelimuti perjalanan kami. Hai ketiga, kami melintasi wilayah Filipina. Siang hari, kami melewati kawasan yg rawan perompakan. Perompak biasanya adalah para tentara pemberontak Moro, pimpinan abu sayaf yg terkenal di Filipina itu.
Menu pagi itu, sayur, ikan tongkol ukuran besar, sambel terasi. Semuanya sudah terhidang di meja. Menu yang tak memancing selera bagiku. Tapi mau tak mau, hrs makan. Paling nggak, untuk menghindari masuk angin, mabuk laut. Sepiring bisa ku habiskan. Tapi allan, baru beberapa suap, udah gak sanggup. Saat bangun tidur, ia memang sudah terlihat kurang sehat. Pusing katanya. Tak lama kemudian, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tanda mau muntah. Langsung ku arahkan agar muntahannya tertuju ke ember tempat penampungan air AC yg menetes. Ia tampak lemas, tak bertenaga.
Hari pertama, allan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Ia hanya tergolek lemas, nggak puasa. Syukurnya, aku tak merasakan pusing dan mabuk laut. Bahkan hari itu, aku bisa mengambil gambar hampir seharian di kapal. Termasuk pengambilan gambar saat layar di buka dan di tutup.
Hari itu, angin cukup bersahabat. Maka, layar kapal langsung di kembangkan. Prosesi pengembangan layar, cukup menarik untuk diambil gambar. Saat layaar terkembang, kecepatan bisa mencapai 15 knot. Tanpa layar, kekuatan mesin hanya bisa memacu kecepatan kapal maksimal 10 knot. Kalo di darat, 10 knot sama dengan 30 km perjam.
Air adalah masalah utama di kapal ini. Perjalanan panjang selama 12 hari, sementara persediaan air terbatas. Maka, tak ada cara lain selain berhemat. Keran air dinyalakan saat tertentu saja. Tak heran, kami sering kehabisan air. Air di nyalain pagi hari, siang dan sore hari. Aku tak mandi pagi karena telat, keburu habis. Tapi sore, air lumayan banyak. Jadi aku bisa mandi.
Hari pertama, akhirnya puasaku tuntas. Walaupun dengan makan seadanya. Untungnya, aku dan allan udah bawa stok makanan banyak. Obat-obatan dan vitamin juga tersedia banyak.
Hari kedua, 2 Okt
Hari kedua, berbeda dengan hari pertama. Bila hari pertama aku masih bisa tertawa, tersenyum dan ramah pd semua kru kapal. Hari kedua badanku drop. Saat siang, tak tertahankan lagi, aku langsung ke buritan kapal, memuntahkan isi perut. Emang menyiksa kalo mabuk laut. Itulah yg kurasakan pada hari kedua. Apa yg udah kumakan, keluar semua.
Setelah muntah, aku langsung buka puasa. Emang udah batal. Makan roti, obat anti mual yg diberi dokter kapal. Setelah itu makan nasi. Dan tak lama, kuhabiskan waktu dengan tidur, sampe sore. Kondisi berbeda justru dialami temanku allan. Ia malah tampak lebih segar dan bisa menuntaskan puasanya hingga waktu berbuka. Tp untungnya kondisiku mulai pulih dan stabil hingga hari ketiga. Hari ketiga, hujan menyelimuti perjalanan kami. Hai ketiga, kami melintasi wilayah Filipina. Siang hari, kami melewati kawasan yg rawan perompakan. Perompak biasanya adalah para tentara pemberontak Moro, pimpinan abu sayaf yg terkenal di Filipina itu.
Ombak Besar
7 Okt, habis maghrib.
Perjalanan hari ke empat menuju hongkong adalah yg terberat. Kapal, saat itu baru lepas dari pulau Basilan dan mulai memasuki Laut Sulu, Filipina. Menjelang buka puasa, kapal mulai berguncang tak biasa. Ombak di luar sangat besar. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri.Ini namanya ombak haluan. Kapal seperti mau terbalik saja.
Kondisi ini terus berlangsung sampe besoknya. Selama ombak besar itu, kapal terasa sepi. Tiada terdengar obrolan kru kapal. Tiada terdengar dangdutan, yg biasanya berlangsung saat malam. Tiada juga suara tawa, saat bermain remi. Semua seolah membisu. Semua berada di kamar. Sebagian besar tidur. Sebagian lagi, aku tak tau, karena pintu kamar tertutup rapat.
Yg terdengar hanya suara perabotan kapal yang bergeser kesana kamari akibat hempasan ombak. Saat aku tidur di ruang Saloon, suara hentakan pigura2 yg tergantung seolah menjadi teman setia. Di atas kepalaku, pigura bergambar SBY – JK. Suara hentakannya selalu menjadi pusat perhatianku. Pintu saloon terkadang malah terbuka sendiri. Lalu tertutup dengan suara yg keras. Seperti orang maarah, membanting pintu.
Saat paginya, aku tidur ke kamar. Di sini, suara benda-benda yg bergeser malah tambah parah. Dari mulai suara drum-drum yg terbanting, suara kaleng yg jatuh di dapur, dan kadang-kadang, piring dan sendok yg jatuh.
Kondisi begini, tentu saja menyiksaku dan allan. Apalagi dengan badan bergoyang kekanan dan ke kiri, tubuh jadi tidak nyaman. Pusing datang tak diundang. Serba salah. Mau bergerak nggak bisa. Mau tidur juga susah. Kondisi ombak seperti ini, seperti kata kru kebanyakan, membuat kita jadi malas. Akhirnya hanya bisa bertahan , berdiam diri, berusaha menikmati perjalanan, meski sebenarnya ini jadi sebuah siksaan.
Aktivitas kapal, hari itu, nyaris semuanya di tiadakan. Kadet2 yg biasanya mendapat materi pelayaran di geladak kapal, hari itu hanya berada di magic box. Sebutan mereka karena ruangan yg sempit itu mampu menampung 65 kadet. Padat, sumpek. Benar2 kumuh.
Menjelang siang, kami sudah bisa adaptasi. Aku dan allan di ajak dokter kapal ke anjungan kapal utk mengambil gambar. Katanya ombak besar bagus kalo diambil gambarnya dari anjungan. Anjungan adalah tempat tertinggi di kapal, berada di atas ruang navigasi.
Dengan jalan sempoyongan, seperti orang mabuk, kami tiba di anjungan. Aku mengabadikan ombak besar yg menghempas kapal kami. Terlihat ngeri memang. Kapal segini kecil berada di tengah ombak yg besar. Kapal miring ke kiri dan ke kanan. Ombak lambung emang membuat kapal tak berdaya. Ombak lambung, maksudnya ombak yang datang dari sisi kapal.
Saat-saat tertentu, kemiringan kapal mencpai 30 sampai 35 derajat. Bisa dibayangkan. Aku sendiri takut. Kadang-kadang, malah membayangkan yg bukan-bukan. Menjelang malam, barulah suasana sudah sedikit membaik. Ombak tidak sehebat sebelumnya. Biasanya kondisi laut mulai tenang bila mendekati/ menyisir pulau. Kalo udah begitu, barulah hari sedikit lega.
Perjalanan hari ke empat menuju hongkong adalah yg terberat. Kapal, saat itu baru lepas dari pulau Basilan dan mulai memasuki Laut Sulu, Filipina. Menjelang buka puasa, kapal mulai berguncang tak biasa. Ombak di luar sangat besar. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri.Ini namanya ombak haluan. Kapal seperti mau terbalik saja.
Kondisi ini terus berlangsung sampe besoknya. Selama ombak besar itu, kapal terasa sepi. Tiada terdengar obrolan kru kapal. Tiada terdengar dangdutan, yg biasanya berlangsung saat malam. Tiada juga suara tawa, saat bermain remi. Semua seolah membisu. Semua berada di kamar. Sebagian besar tidur. Sebagian lagi, aku tak tau, karena pintu kamar tertutup rapat.
Yg terdengar hanya suara perabotan kapal yang bergeser kesana kamari akibat hempasan ombak. Saat aku tidur di ruang Saloon, suara hentakan pigura2 yg tergantung seolah menjadi teman setia. Di atas kepalaku, pigura bergambar SBY – JK. Suara hentakannya selalu menjadi pusat perhatianku. Pintu saloon terkadang malah terbuka sendiri. Lalu tertutup dengan suara yg keras. Seperti orang maarah, membanting pintu.
Saat paginya, aku tidur ke kamar. Di sini, suara benda-benda yg bergeser malah tambah parah. Dari mulai suara drum-drum yg terbanting, suara kaleng yg jatuh di dapur, dan kadang-kadang, piring dan sendok yg jatuh.
Kondisi begini, tentu saja menyiksaku dan allan. Apalagi dengan badan bergoyang kekanan dan ke kiri, tubuh jadi tidak nyaman. Pusing datang tak diundang. Serba salah. Mau bergerak nggak bisa. Mau tidur juga susah. Kondisi ombak seperti ini, seperti kata kru kebanyakan, membuat kita jadi malas. Akhirnya hanya bisa bertahan , berdiam diri, berusaha menikmati perjalanan, meski sebenarnya ini jadi sebuah siksaan.
Aktivitas kapal, hari itu, nyaris semuanya di tiadakan. Kadet2 yg biasanya mendapat materi pelayaran di geladak kapal, hari itu hanya berada di magic box. Sebutan mereka karena ruangan yg sempit itu mampu menampung 65 kadet. Padat, sumpek. Benar2 kumuh.
Menjelang siang, kami sudah bisa adaptasi. Aku dan allan di ajak dokter kapal ke anjungan kapal utk mengambil gambar. Katanya ombak besar bagus kalo diambil gambarnya dari anjungan. Anjungan adalah tempat tertinggi di kapal, berada di atas ruang navigasi.
Dengan jalan sempoyongan, seperti orang mabuk, kami tiba di anjungan. Aku mengabadikan ombak besar yg menghempas kapal kami. Terlihat ngeri memang. Kapal segini kecil berada di tengah ombak yg besar. Kapal miring ke kiri dan ke kanan. Ombak lambung emang membuat kapal tak berdaya. Ombak lambung, maksudnya ombak yang datang dari sisi kapal.
Saat-saat tertentu, kemiringan kapal mencpai 30 sampai 35 derajat. Bisa dibayangkan. Aku sendiri takut. Kadang-kadang, malah membayangkan yg bukan-bukan. Menjelang malam, barulah suasana sudah sedikit membaik. Ombak tidak sehebat sebelumnya. Biasanya kondisi laut mulai tenang bila mendekati/ menyisir pulau. Kalo udah begitu, barulah hari sedikit lega.
Obat Bosan
7 Okt, habis Maghrib
Berhari-hari di kapal, tentu saja membosankan. Tapi untungnya di kapal, selalu saja ada kegiatan yang bisa melepaskan diri dari kebosanan. Berbagai macam hiburan bisa dilakukan oleh para kru kapal, biasanya malam hari. Salah satunya adalah dangdutan. Di kapal tersedia organ tunggal, gendang, seruling jawa. Mereka memang jagonya bermusik. Tp alat musik itu khusus untuk dangdut. 3 buah buku berisi lagu-lagu, semuanya lagu dangdut. Kadang-kadang lagu campur sari. Maklum, mayoritas kru kapal adalah orang jawa, terutama jawa timur. Hanya sebagian yang berasal dari luar pulau jawa, khususnya sumatera, seperti diriku.
Dangdutan berlangsung di bangku sisi kiri kapal/ tak jauh dari kamarku. Aku paling suka kalo sudah mendengar lagu campur sari. Suara mereka tak jauh beda dengan didi kempot. Alunan organ, di tambah gendang dan seruling jawa menambah indah lagu yang dibawakan. Suasana kebersamaan benar-benar terlihat dan terasa.
Di kapal juga tersedia Play station (PS). Tapi aku tak pernah main. Aku memang tak bisa main PS. Dan memang nggak hobby. Hiburan lain adalah dengerin musik atau nonton film DVD yang ada di lounge room, ruang makan. Lagu-lagu grup band yang lagi ngetop saat ini tersedia lengkap.
Hiburan lain yang bisa menghilangkan rasa bosan tentu adalah makan dan tidur. Itu rutinitas harian, tapi bisa menjadi obat mujarab di kapal. Tidur, udah pasti akan nikmat, meski untuk itu badan terasa capek, karena badan akan bergeser ke kiri ke kanan, karena ombak laut. Kalo makan, ini agak susah juga. 5 hari di kapal, aku belum bisa merasakan nikmatnya makan di kapal.
Sebelumnya, aku hanya bisa menghabiskan 2 centong nasi. Itupun kadang-kadang tidak habis. Makan bukanlah sesuatu yang nikmat, tapi justru menjadi beban. Makan hanya karena takut masuk angina dan tak bertenaga. Kondisi yang sama juga dialami temanku allan. Menu di kapal, kadang-kadang memang bervariasi. Ada daging ayam, telur, ikan, sayur mayur juga beragam dari mulai sawi, wortel, kentang, kol dll. Tapi mengenai rasa, ini masalahnya. Para kru kapal bilang, apapun makanannya, rasanya Cuma satu, rasa kapal. Mau di buat sop, atau di gulai atau mau di apakan saja, ya rasanya sama saja, rasa kapal. He he..
Tapi aku salut sama mereka. Para ABK-ABK berbadan kekar itu, kalo makan kalapnya minta ampun. Melihat mereka makan saja, aku sudah kenyang. Kadang-kadang kalo makan, ku lihat, bisa dalam mangkok besar, nasi dan lauk pauk di jadikan satu. Lalu kuahnya di seruput. LUar biasa. Andai aku bisa begitu. Bisa gemuk aku. Tapi yang kualami justru sebaliknya. 6 hari dikapal, berat badanku turun 2 kilo. Aku baru tau dari timbangan yang ada di kamar dokter kapal. Udahlah kurus, turun berat badan, mau bagaimana lagi bentuknya…
Berhari-hari di kapal, tentu saja membosankan. Tapi untungnya di kapal, selalu saja ada kegiatan yang bisa melepaskan diri dari kebosanan. Berbagai macam hiburan bisa dilakukan oleh para kru kapal, biasanya malam hari. Salah satunya adalah dangdutan. Di kapal tersedia organ tunggal, gendang, seruling jawa. Mereka memang jagonya bermusik. Tp alat musik itu khusus untuk dangdut. 3 buah buku berisi lagu-lagu, semuanya lagu dangdut. Kadang-kadang lagu campur sari. Maklum, mayoritas kru kapal adalah orang jawa, terutama jawa timur. Hanya sebagian yang berasal dari luar pulau jawa, khususnya sumatera, seperti diriku.
Dangdutan berlangsung di bangku sisi kiri kapal/ tak jauh dari kamarku. Aku paling suka kalo sudah mendengar lagu campur sari. Suara mereka tak jauh beda dengan didi kempot. Alunan organ, di tambah gendang dan seruling jawa menambah indah lagu yang dibawakan. Suasana kebersamaan benar-benar terlihat dan terasa.
Di kapal juga tersedia Play station (PS). Tapi aku tak pernah main. Aku memang tak bisa main PS. Dan memang nggak hobby. Hiburan lain adalah dengerin musik atau nonton film DVD yang ada di lounge room, ruang makan. Lagu-lagu grup band yang lagi ngetop saat ini tersedia lengkap.
Hiburan lain yang bisa menghilangkan rasa bosan tentu adalah makan dan tidur. Itu rutinitas harian, tapi bisa menjadi obat mujarab di kapal. Tidur, udah pasti akan nikmat, meski untuk itu badan terasa capek, karena badan akan bergeser ke kiri ke kanan, karena ombak laut. Kalo makan, ini agak susah juga. 5 hari di kapal, aku belum bisa merasakan nikmatnya makan di kapal.
Sebelumnya, aku hanya bisa menghabiskan 2 centong nasi. Itupun kadang-kadang tidak habis. Makan bukanlah sesuatu yang nikmat, tapi justru menjadi beban. Makan hanya karena takut masuk angina dan tak bertenaga. Kondisi yang sama juga dialami temanku allan. Menu di kapal, kadang-kadang memang bervariasi. Ada daging ayam, telur, ikan, sayur mayur juga beragam dari mulai sawi, wortel, kentang, kol dll. Tapi mengenai rasa, ini masalahnya. Para kru kapal bilang, apapun makanannya, rasanya Cuma satu, rasa kapal. Mau di buat sop, atau di gulai atau mau di apakan saja, ya rasanya sama saja, rasa kapal. He he..
Tapi aku salut sama mereka. Para ABK-ABK berbadan kekar itu, kalo makan kalapnya minta ampun. Melihat mereka makan saja, aku sudah kenyang. Kadang-kadang kalo makan, ku lihat, bisa dalam mangkok besar, nasi dan lauk pauk di jadikan satu. Lalu kuahnya di seruput. LUar biasa. Andai aku bisa begitu. Bisa gemuk aku. Tapi yang kualami justru sebaliknya. 6 hari dikapal, berat badanku turun 2 kilo. Aku baru tau dari timbangan yang ada di kamar dokter kapal. Udahlah kurus, turun berat badan, mau bagaimana lagi bentuknya…
Tekhnologi Manual Dewa Ruci
Senin, 9 Nov
10.35 Waktu setempat
Separuh laut Cina selatan sudah kami lalui. Laut tenang. Ombak hanya sesekali mengolengkan kapal. Ini hari ke tiga kami berada di laut cina selatan. 3 hari lalu, Jumat jam 5 sore, kapal mulai berbelok memasuki laut cina selatan. Sebelumnya kapal mengarah ke timur, menyusuri pulau Luzon Filipina.
Saat memasuki laut cina selatan pertama kali, ombak lumayan besar. Tapi tidak sebesar seperti di laut sulu. Laut cina selatan, dari yang aku dengar selama ini, merupakan salah satu laut terganas. Tp Alhamdulillah, hingga saat ini, cuaca cukup bersahabat. Padahal sebelumnya, kami sempat was-was. Berdasarkan informasi dari pusat ramalan cuaca, badai typhoon baru saja melanda kawasan yang akan kami lewati, tepatnya 30 sept dan 1 okt yang lalu. Ada 3 titik di laut cina selatan yang terkena badai. Badai typhoon tersebut memanjang dari arah tenggara hingga barat laut.
Tp untungnya badai tersebut sudah menghilang. Saat kami melintasi laut cina selatan. Tapi pada hari minggu, dari informasi salah seorang kru kapal, badai justru terlihat di utara Tokyo, Jepang. Jaraknya beratus-ratus mil laut dari tempat kami berada. Meski jauh dari pusat badai, tapi efeknya terasa hingga ke tempat kami. Ini terlihat dari ombak yang membesar dan meninggi. Efek typhoon biasanya mampu mencapai 300 mil laut. Seorang perwira kapal itu mengatakan, ia pernah melintasi kawasan ini, tapi ombaknya tidak sebesar seperti yang kami alami saat ini. Ia memastikan bahwa ombak yang kami rasakan ini merupakan efek dari typhoon di jepang itu.
Dari pos komando utama yang berada di anjungan, akan terlihat laut cina selatan merupakan laut terdalam yang kami lalui. Dalamnya sekitar 4500 meter. Di Pos komando utama tersedia banyak informasi tentang navigasi. Di situ terdapat kemudi, radar, ruang komunikasi dan banyak lagi. Dari peta, di ketahui kapal sedang berada di mana. Di Bantu radar dan GPS. Dapat pula di tentukan jarak tempuh, kecepatan kapal, pulau-pulau yang akan terlewati dan yang terpenting jalur yang akan kami lalui. Waktu sholat, berbuka puasa, Imsak dan sebagainya juga bs di ketahui.
Di situ pulalah, para kadet belajar tentang pelayaran. Mereka sibuk mengukur derajat posisi kapal, mengatur posisi kapal dari kemudi yang diameternya lebih dari 2 meter. Bagiku, itu cukup modern. Tp ternyata tidak. Menurut salah seorang perwira yg bertugas, peralatan navigasi di KRI Dewa Ruci justru masih sangat tradisional. Malah, kapal nelayan Thailand, hanya butuh satu layar seperti computer dan semuanya sudah diatur di situ. Seorang kapten kapal hanya tinggal melihat layar dan memencet beberapa tombol untuk menjalankan kapal dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Tapi di dewa ruci, memang masih ada yang manual. Tapi ini memang di bentuk sebagai bahan pelajaran bagi para kadet. Mengenai hasil, dengan cara manual bahkan bisa lebih tepat hasilnya ketimbang tekhnologi digital itu.
10.35 Waktu setempat
Separuh laut Cina selatan sudah kami lalui. Laut tenang. Ombak hanya sesekali mengolengkan kapal. Ini hari ke tiga kami berada di laut cina selatan. 3 hari lalu, Jumat jam 5 sore, kapal mulai berbelok memasuki laut cina selatan. Sebelumnya kapal mengarah ke timur, menyusuri pulau Luzon Filipina.
Saat memasuki laut cina selatan pertama kali, ombak lumayan besar. Tapi tidak sebesar seperti di laut sulu. Laut cina selatan, dari yang aku dengar selama ini, merupakan salah satu laut terganas. Tp Alhamdulillah, hingga saat ini, cuaca cukup bersahabat. Padahal sebelumnya, kami sempat was-was. Berdasarkan informasi dari pusat ramalan cuaca, badai typhoon baru saja melanda kawasan yang akan kami lewati, tepatnya 30 sept dan 1 okt yang lalu. Ada 3 titik di laut cina selatan yang terkena badai. Badai typhoon tersebut memanjang dari arah tenggara hingga barat laut.
Tp untungnya badai tersebut sudah menghilang. Saat kami melintasi laut cina selatan. Tapi pada hari minggu, dari informasi salah seorang kru kapal, badai justru terlihat di utara Tokyo, Jepang. Jaraknya beratus-ratus mil laut dari tempat kami berada. Meski jauh dari pusat badai, tapi efeknya terasa hingga ke tempat kami. Ini terlihat dari ombak yang membesar dan meninggi. Efek typhoon biasanya mampu mencapai 300 mil laut. Seorang perwira kapal itu mengatakan, ia pernah melintasi kawasan ini, tapi ombaknya tidak sebesar seperti yang kami alami saat ini. Ia memastikan bahwa ombak yang kami rasakan ini merupakan efek dari typhoon di jepang itu.
Dari pos komando utama yang berada di anjungan, akan terlihat laut cina selatan merupakan laut terdalam yang kami lalui. Dalamnya sekitar 4500 meter. Di Pos komando utama tersedia banyak informasi tentang navigasi. Di situ terdapat kemudi, radar, ruang komunikasi dan banyak lagi. Dari peta, di ketahui kapal sedang berada di mana. Di Bantu radar dan GPS. Dapat pula di tentukan jarak tempuh, kecepatan kapal, pulau-pulau yang akan terlewati dan yang terpenting jalur yang akan kami lalui. Waktu sholat, berbuka puasa, Imsak dan sebagainya juga bs di ketahui.
Di situ pulalah, para kadet belajar tentang pelayaran. Mereka sibuk mengukur derajat posisi kapal, mengatur posisi kapal dari kemudi yang diameternya lebih dari 2 meter. Bagiku, itu cukup modern. Tp ternyata tidak. Menurut salah seorang perwira yg bertugas, peralatan navigasi di KRI Dewa Ruci justru masih sangat tradisional. Malah, kapal nelayan Thailand, hanya butuh satu layar seperti computer dan semuanya sudah diatur di situ. Seorang kapten kapal hanya tinggal melihat layar dan memencet beberapa tombol untuk menjalankan kapal dan mencapai tujuan yang diinginkan.
Tapi di dewa ruci, memang masih ada yang manual. Tapi ini memang di bentuk sebagai bahan pelajaran bagi para kadet. Mengenai hasil, dengan cara manual bahkan bisa lebih tepat hasilnya ketimbang tekhnologi digital itu.
Merapat di Hongkong
Minggu, 15 Okt 06
Pkl 09.30 Waktu setempat
Pagi sekali, kapal bergerak menuju ke pusat kota Hongkong. Kini, kapal sudah dalam kondisi kinclong, karena selama lego jangkar, kadet dan ABK bergotong royong membersihkan kapal. Setiap sudut kapal di cat sehingga terlihat seperti baru. Kadet-kadet kini juga sudah siap tempur untuk menunjukkan kebolehannya. selama 2 hari penuh di kapal saat lego jangkar, mereka terus berlatih marcing band, di sebut GS (gendering seruling), atraksi musik dan tari2an daerah.
Kapal, sedikit demi sedikit telah memasuki kawasan Hongkong. Perairan itu berada di antara 2 pulau, yaitu new territorial (Kowloon) dan pulau Hongkong. Kini, hutan beton telah tampak di depan mata. Para kadet sibuk mengabadikannya dengan kamera, sambil berbaris siap di sepanjang sisi kapal. Sebagian besar tampak terperangah dengan pemandangan di sekeliling. Gedung-gedung tinggi inilah yang disebut Hongkong. Sebuah kota metropolis yang mendunia, bekas koloni Inggris. Kami seperti di sulap, karena kami seolah berada di tengah-tengah hutan gedung. Perairan memang di apit dengan dua daratan, yang tak menyisakan sedikitpun ruang kosong, selain gedung-gedung pencakar langit. Pulau bekas sewaan Inggris ini, kini menjelma menjadi sentra perdagangan dan bisnis dunia.
Hongkong, sesungguhnya hanyalah terdiri dari beberapa pulau kecil. Yang terbesar ada 3 pulau, yakni Macau, new territorial dan Hongkong. Luas pulau ini, paling-paling sama dengan 1 kecamatan di daerahku, di Langkat sana. Atau kalo di Jakarta, paling-paling hanya satu daerah kotamadya. Setelah lepas dari Inggris pada 1 Juli 1997, kini wilayah ini mendapat otonomi khusus dari pemerintah RRC.
Akhirnya kapal berhenti tak jauh dari daratan. Tak lama, rombongan penjemput dari KJRI Indonesia di Hongkong datang. Usai penyambutan dan ramah tamah sesaat, Beberapa pewira kapal dan komandan, utusan kadet termasuk kami wartawan mengikuti rombongan dari KJRI dengan naik water taxi, menuju darat, tempat penyambutan resmi. Kami tiba di waterdeck, satu gedung milik angkatan laut amerika serikat yang letaknya persis di pinggir laut, dekat dermaga. Setelah penyambutan sederhana itu, kami kembali ke kapal. Posisi dewa ruci yang tak merapat agaknya mempersulit gerak. Tapi karena memang sudah keputusan sang komandan, apa mau dikata..
Pkl 09.30 Waktu setempat
Pagi sekali, kapal bergerak menuju ke pusat kota Hongkong. Kini, kapal sudah dalam kondisi kinclong, karena selama lego jangkar, kadet dan ABK bergotong royong membersihkan kapal. Setiap sudut kapal di cat sehingga terlihat seperti baru. Kadet-kadet kini juga sudah siap tempur untuk menunjukkan kebolehannya. selama 2 hari penuh di kapal saat lego jangkar, mereka terus berlatih marcing band, di sebut GS (gendering seruling), atraksi musik dan tari2an daerah.
Kapal, sedikit demi sedikit telah memasuki kawasan Hongkong. Perairan itu berada di antara 2 pulau, yaitu new territorial (Kowloon) dan pulau Hongkong. Kini, hutan beton telah tampak di depan mata. Para kadet sibuk mengabadikannya dengan kamera, sambil berbaris siap di sepanjang sisi kapal. Sebagian besar tampak terperangah dengan pemandangan di sekeliling. Gedung-gedung tinggi inilah yang disebut Hongkong. Sebuah kota metropolis yang mendunia, bekas koloni Inggris. Kami seperti di sulap, karena kami seolah berada di tengah-tengah hutan gedung. Perairan memang di apit dengan dua daratan, yang tak menyisakan sedikitpun ruang kosong, selain gedung-gedung pencakar langit. Pulau bekas sewaan Inggris ini, kini menjelma menjadi sentra perdagangan dan bisnis dunia.
Hongkong, sesungguhnya hanyalah terdiri dari beberapa pulau kecil. Yang terbesar ada 3 pulau, yakni Macau, new territorial dan Hongkong. Luas pulau ini, paling-paling sama dengan 1 kecamatan di daerahku, di Langkat sana. Atau kalo di Jakarta, paling-paling hanya satu daerah kotamadya. Setelah lepas dari Inggris pada 1 Juli 1997, kini wilayah ini mendapat otonomi khusus dari pemerintah RRC.
Akhirnya kapal berhenti tak jauh dari daratan. Tak lama, rombongan penjemput dari KJRI Indonesia di Hongkong datang. Usai penyambutan dan ramah tamah sesaat, Beberapa pewira kapal dan komandan, utusan kadet termasuk kami wartawan mengikuti rombongan dari KJRI dengan naik water taxi, menuju darat, tempat penyambutan resmi. Kami tiba di waterdeck, satu gedung milik angkatan laut amerika serikat yang letaknya persis di pinggir laut, dekat dermaga. Setelah penyambutan sederhana itu, kami kembali ke kapal. Posisi dewa ruci yang tak merapat agaknya mempersulit gerak. Tapi karena memang sudah keputusan sang komandan, apa mau dikata..
Berjumpa Banyak TKW
Aku dan Allan ikut serta, saat komandan kapal dan Komandan Latihan (Danlat) beserta 1 orang kadet melakukan pertemuan di KJRI. Itulah pertama kalinya aku memasuki jalanan kota Hogkong. Aku, Allan dan Pak pur (dari Dispenal) menuju KJRI dengan taxi, karena mobil nggak cukup. Pak Nugraha adalah pejabat KJRI yang kelihatannya ramah dan ia lah yang setia bersama kami.
Jalanan kota Hongkong itu ternyata memang tidak selebar dan sepadat Jakarta. Di Jakarta, jalanan bisa dijadikan lapangan bola, kalo sedang kosong. Tapi disini, jalan-jalan utama hanya terdiri untuk 3 jalur kendaraan. Tapi ditengahnya ada jalur khusus buat trem, mirip kereta api. Meski begitu, jalanan terlihat lancar, teratur dan bersih. Jarang sekali ada kemacetan. Di kiri kanan jalan, gedung-gedung pencakar langit seolah tak menyisakan ruang kosong. Kami melewati victoria park, sebuah taman di tengah kota yang biasanya dimanfaatkan orang-orang Indonesia yang kerja di situ (TKW) untuk berkumpul pada hari Minggu.
Hanya butuh waktu 15 menit menuju KJRI. Kami tiba di gedung berlantai 12 yang ternyata adalah milik pemerintah Indonesia, bukan sewaan. Pak Nugraha lah yang banyak menjelaskan dan tetap setia mendampingi kami. Ia memang terbiasa melayani wartawan, karena seniorku di trans yang pernah ke hongkong juga menyarankan supaya minta bantuan dia.
Pak Nugraha menyuruh stafnya untuk membawa kami jalan-jalan sebentar di sekitar kantor KJRI. Pak adek, dialah yang membawa kami jalan keluar. Baru aku sadar, di sekitar kantor ternyata banyak komunitas orang Indonesia. Ini terlihat dari adanya supermarket yang menyediakan barang-barang dr Indonesia, money changer yang khusus menyediakan uang rupiah dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Semuanya dengan nama-nama Indonesia.
Di sekitar itu pula, kami selalu berpapasan dengan orang-orang Indonesia. Mereka adalah TKW. Di hongkong, jumlah TKW mencapai 100 ribu lebih. Selama berjalan, kami selalu mendengar para TKW itu ngobrol dalam bahasa Jawa. 80 persen TKW memang berasal dari Jawa, khususnya jawa timur. Aku jadi merasa berada di negeri sendiri.
Di salah satu ruas jalan, berjejer money changer dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Kami lihat, para TKW antri di loket2 yang disediakan. Maklum, menjelang lebaran, biasanya akan banyak TKW yang mengirim uang ke kampungnya di Indonesia. Fakta menarik untuk diberitakan. Aku dan Allan menyempatkan untuk membuat satu paket liputan, dengan pengambilan gambar yang terburu-buru, karena waktu mepet. Jam 3, kami harus kembali ke KJRI. Katanya komandan ada kegiatan. Tapi sampai di KJRI, ternyata mobil juga tidak cukup. Dan kami pun tak jadi ikut. Kesempatan lagi untuk melengkapi paket liputan yang tadi terburu-buru.
Sampai sore, kami bisa membuat 2 pket liputan. 1 liputan lainnya tentang olimpic bridge, yakni jembatan warna-warni untuk menyambut pelaksanaan olimpiade RRC 2008. Tiap anak tangga jembatan penyeberangan itu, di beri warna-warni dan diberi nama kota2 yang pernah menyelenggarakan olimpiade.
Sore hari, kami kembali ke KJRI. Agenda sore itu adalah buka puasa bersama. Rombongan dari kapal datang dengan 2 bus. Acara berlangsung di lantai 2. Selama 12 hari, baru hari itu aku bisa merasakan menu makanan yang beragam. Dari mulai sayur-sayuran, ikan, daging, udang, buah2an dan sambal. Sayang, perut tak kuasa menahan nafsu makan yang menggelegak.
Buka puasa di akhiri dengan acara hiburan musik. Malam itu, rencananya aku dan allan ingin mengambil liputan sholat tarawih berjamaah yang berlangsung di mesjid KJRI. Jamaahnya adalah para TKW. Tapi sayang, waktu tak memungkinkan. Jam 8, kami sudah harus kembali ke kapal.
Jalanan kota Hongkong itu ternyata memang tidak selebar dan sepadat Jakarta. Di Jakarta, jalanan bisa dijadikan lapangan bola, kalo sedang kosong. Tapi disini, jalan-jalan utama hanya terdiri untuk 3 jalur kendaraan. Tapi ditengahnya ada jalur khusus buat trem, mirip kereta api. Meski begitu, jalanan terlihat lancar, teratur dan bersih. Jarang sekali ada kemacetan. Di kiri kanan jalan, gedung-gedung pencakar langit seolah tak menyisakan ruang kosong. Kami melewati victoria park, sebuah taman di tengah kota yang biasanya dimanfaatkan orang-orang Indonesia yang kerja di situ (TKW) untuk berkumpul pada hari Minggu.
Hanya butuh waktu 15 menit menuju KJRI. Kami tiba di gedung berlantai 12 yang ternyata adalah milik pemerintah Indonesia, bukan sewaan. Pak Nugraha lah yang banyak menjelaskan dan tetap setia mendampingi kami. Ia memang terbiasa melayani wartawan, karena seniorku di trans yang pernah ke hongkong juga menyarankan supaya minta bantuan dia.
Pak Nugraha menyuruh stafnya untuk membawa kami jalan-jalan sebentar di sekitar kantor KJRI. Pak adek, dialah yang membawa kami jalan keluar. Baru aku sadar, di sekitar kantor ternyata banyak komunitas orang Indonesia. Ini terlihat dari adanya supermarket yang menyediakan barang-barang dr Indonesia, money changer yang khusus menyediakan uang rupiah dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Semuanya dengan nama-nama Indonesia.
Di sekitar itu pula, kami selalu berpapasan dengan orang-orang Indonesia. Mereka adalah TKW. Di hongkong, jumlah TKW mencapai 100 ribu lebih. Selama berjalan, kami selalu mendengar para TKW itu ngobrol dalam bahasa Jawa. 80 persen TKW memang berasal dari Jawa, khususnya jawa timur. Aku jadi merasa berada di negeri sendiri.
Di salah satu ruas jalan, berjejer money changer dan tempat pengiriman uang ke Indonesia. Kami lihat, para TKW antri di loket2 yang disediakan. Maklum, menjelang lebaran, biasanya akan banyak TKW yang mengirim uang ke kampungnya di Indonesia. Fakta menarik untuk diberitakan. Aku dan Allan menyempatkan untuk membuat satu paket liputan, dengan pengambilan gambar yang terburu-buru, karena waktu mepet. Jam 3, kami harus kembali ke KJRI. Katanya komandan ada kegiatan. Tapi sampai di KJRI, ternyata mobil juga tidak cukup. Dan kami pun tak jadi ikut. Kesempatan lagi untuk melengkapi paket liputan yang tadi terburu-buru.
Sampai sore, kami bisa membuat 2 pket liputan. 1 liputan lainnya tentang olimpic bridge, yakni jembatan warna-warni untuk menyambut pelaksanaan olimpiade RRC 2008. Tiap anak tangga jembatan penyeberangan itu, di beri warna-warni dan diberi nama kota2 yang pernah menyelenggarakan olimpiade.
Sore hari, kami kembali ke KJRI. Agenda sore itu adalah buka puasa bersama. Rombongan dari kapal datang dengan 2 bus. Acara berlangsung di lantai 2. Selama 12 hari, baru hari itu aku bisa merasakan menu makanan yang beragam. Dari mulai sayur-sayuran, ikan, daging, udang, buah2an dan sambal. Sayang, perut tak kuasa menahan nafsu makan yang menggelegak.
Buka puasa di akhiri dengan acara hiburan musik. Malam itu, rencananya aku dan allan ingin mengambil liputan sholat tarawih berjamaah yang berlangsung di mesjid KJRI. Jamaahnya adalah para TKW. Tapi sayang, waktu tak memungkinkan. Jam 8, kami sudah harus kembali ke kapal.
Atraksi Kadet
Hari kedua di Hongkong. Aku ikut dengan rombongan kadet yang melakukan kunjungan persahabatan ke Hongkong Cadet School. Sementara Allan bersama dokter dan perwira bernama Lukas ke pasar Mongkok, pasar tradisional di Hongkong yang menyediakan banyak souvenir khas Hongkong. Kami sengaja berpisah agar bisa buat liputan berbeda. Ya, agar bisa buat banyak liputan. Sukur, kemarin udah buat 2 liputan. Allan juga bawa pakaian kotor untuk di bawa ke loundry.
Dengan 2 bus, kami menuju sekolah yang dituju. Sekolah berada di pulau new teitorial (Kowloon). Menuju pulau dari daratan kota hongkong tentu harus menyeberangi selat. Tapi tak perlu dengan perahu, karena tersedia jalan di bawah laut. Aku hanya bisa mengagumi tekhnologi yang mempermudah transportasi di sana. Kowloon, tak jauh beda dengan hongkong. Hutan gedung berdesakan memenuhi ruang-ruang di pulau itu. Bedanya, gedung-gedung di Kowloon umumnya adalah apartemen, sementara di hongkong adalah perkantoran. Di sini, kita tidak akan pernah melihat ada rumah pribadi, karena semuanya tinggal di flat. Di Kowloon, beberapa apartemen terlihat kumuh dengan cat yang mulai luntur. Mungkin ini bisa jadi tanda, flat untuk kalangan menengah ke atas denga flat untuk tempat tinggal kaum miskin kota.
Di Hongkong Cadet School, para kadet mempertunjukkan kebolehannya dalam bermain GS. Aksi itu memukau pelajar yang memenuhi pinggir lapangan untuk menonton. Sekolah itu sepertinya hanya setingkat SMP, dan kebetulan saja namanya cadet school. Mungkin di tujukan untuk mempersiapkan angkatan laut RRC.
Dengan 2 bus, kami menuju sekolah yang dituju. Sekolah berada di pulau new teitorial (Kowloon). Menuju pulau dari daratan kota hongkong tentu harus menyeberangi selat. Tapi tak perlu dengan perahu, karena tersedia jalan di bawah laut. Aku hanya bisa mengagumi tekhnologi yang mempermudah transportasi di sana. Kowloon, tak jauh beda dengan hongkong. Hutan gedung berdesakan memenuhi ruang-ruang di pulau itu. Bedanya, gedung-gedung di Kowloon umumnya adalah apartemen, sementara di hongkong adalah perkantoran. Di sini, kita tidak akan pernah melihat ada rumah pribadi, karena semuanya tinggal di flat. Di Kowloon, beberapa apartemen terlihat kumuh dengan cat yang mulai luntur. Mungkin ini bisa jadi tanda, flat untuk kalangan menengah ke atas denga flat untuk tempat tinggal kaum miskin kota.
Di Hongkong Cadet School, para kadet mempertunjukkan kebolehannya dalam bermain GS. Aksi itu memukau pelajar yang memenuhi pinggir lapangan untuk menonton. Sekolah itu sepertinya hanya setingkat SMP, dan kebetulan saja namanya cadet school. Mungkin di tujukan untuk mempersiapkan angkatan laut RRC.
Langganan:
Postingan (Atom)